Solat Dua Hari Raya Vs Solat Jumaat

UNTA DAN KAMBING DI HADAPAN ASRAMA DARUL IMAN YANG BAKAL MENJADI KORBAN PADA HARI RAYA KEDUA
BERGAMBAR BERSAMA SAHABAT-SAHABAT SETELAH SELESAI SOLAT HARI RAYA DI SUUQ SAYARAT, HAYYU ASYIR, KAHERAH.

Assalamualaikum dan Selamat Hari Raya Eidul Adha...Kullu 'Aam Waantum Bikhair..
Alhamdulillah tahun ini ana memilih untuk menyambut hari raya korban di Bumi Kaherah sahaja, bukan seperti kebiasaanya iaitu di Bumi Dumyat yang tercinta. Sudah pastinya kerana ana kini bukan lagi bergelar mahasiswa al Azhar cawangan Dumyat kerana telah menamatkan pengajian di sana baru2 ini (tepatnya lagi kerana sudah tidak ada rumah sewa sendiri di sana..huhu..sedih2...). Walau apa pun timbul satu persoalan dari salah seorang sahabat ana pada malam raya tersebut...soalannya lebih kurang berbunyi : Adakah boleh kita meninggalkan solat Jumaat kerana telah menunaikan solat hari raya pada pagi hari Jumaat tersebut?

Seingat ana sudah dua kali dalam hidup ana berlakunya peristiwa jatuhnya dua hari raya pada hari Jumaat. Namun, sukar untuk ana menerangkan kepada sahabat tersebut dalil2 yang berkaitan masalah tersebut walaupun sudah maklum ada pendapat yang memberi keringanan untuk meninggalkannya (kerana pernah diterangkan oleh ayah ana semasa masih kanak2 dahulu..tapi dah lupa la..) Oleh itu ana mengambil sedikit masa untuk membuka laman web Darul Ifta' Al Misriyyah dan alhamdulillah memang ada fatwa berkenaaan masalah tersebut di situ...Jadi ana terus copy paste untuk tatapan sahabat2 yang ana kasihi sekalian (dalam terjemahan bahasa Indonesia) sepertimana berikut :

Permasalahan yang ditanyakan merupakan satu masalah yang menjadi perbedaan pendapat para ulama. Perbedaan ini berangkat dari perbedaan mereka dalam menshahihkan hadits dan asar seputar masalah ini dalam satu sisi, dan makna yang dimaksud olehnya dalam sisi lain.

Di antara hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa`I, Ibnu Majah dan Hakim dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, dia berkata, "Saya melihat Mu'awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam r.a., "Apakah ketika bersama Rasulullah saw. engkau pernah menjumpai dua hari raya bertemu dalam satu hari?" Zaid bin Arqam menjawab, "Ya, saya pernah mengalaminya". Mu'awiyah bertanya lagi, "Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika itu?" Dia menjawab, "Beliau melakukan shalat Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat. Beliau bersabda, "Barang siapa ingin melakukan shalat Jumat maka lakukanlah."

Juga hadits riwayat Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, "Pada hari ini telah bertemu dua hari raya. Barang siapa tidak ingin menunaikan shalat Jumat, maka shalat Ied ini sudah menggantikannya. Sedangkan kami akan tetap menunaikan shalat Jumat." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim).

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pelaksanaan shalat Ied tidak mengakibatkan gugurnya kewajiban shalat Jumat. Mereka berdalil dengan keumuman dalil kewajiban shalat Jumat untuk seluruh hari. Di samping itu shalat Jumat dan shalat Ied adalah ibadah yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bisa saling menggantikan. Di sisi lain hadits dan atsar tentang keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jumat tidaklah kuat untuk mengkhususkan hadits tentang kewajiban shalat Jumat tersebut, karena di dalam sanadnya terdapat masalah. Ini adalah mazhab Hanafi dan Maliki.

Sedangkan Imam Ahmad berpendapat –dan ini adalah salah satu pendapat dalam Mazhab Syafi'i— bahwa kewajiban shalat Jumat menjadi gugur bagi orang yang menunaikan shalat Ied, namun orang itu tetap wajib menunaikan shalat zhuhur. Hal ini juga berdasarkan hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya.

Adapun jumhur ulama –termasuk Imam Syafi'I dalam pendapatnya yang paling shahih—berpendapat wajibnya shalat Jumat bagi orang-orang yang tinggal dalam kawasan yang di dalamnya dilaksanakan shalat Jumat dan gugur dari orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman yang syarat-syarat kewajiban shalat Jumat terealisasi pada mereka. Karena mewajibkan mereka untuk menunaikan shalat Jumat setelah shalat Ied dapat menyebabkan kesulitan bagi mereka. Dalil jumhur ulama adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` bahwa Utsman bin Affan r.a. berkata dalam khutbanya, "Sesungguhnya pada hari ini telah bertemu dua Ied. Maka orang yang tinggal di daerah gunung jika ingin menunggu pelaksanaan shalat Jumat maka hendaknya dia menunggu, sedangkan orang yang ingin kembali ke rumahnya maka aku telah mengizinkannya."

Perkataan Utsman ini tidak ditentang oleh seorang sahabat pun, sehingga dianggap sebagai ijmak sukuti. Berdasarkan penjelasan Utsman inilah jumhur ulama memahami hadits keringanan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat bagi orang yang telah melakuan shalat Ied.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka selama masalah ini merupakan masalah khilafiyah maka ia bersifat lapang, dan tidak sepatutnya seseorang membenturkan pendapat satu mazhab dengan pendapat mazhab yang lain. Dengan demikian, shalat Jumat tetap dilaksanakan di masjid-masjid, sebagai pengamalan terhadap hukum asalnya dan sebagai suatu kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah. Dan barang siapa yang kesulitan untuk menghadiri shalat Jumat atau ingin mengambil rukhshah dengan mentaklid pendapat yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat karena menunaikan shalat Ied, maka dia boleh melakukannya dengan syarat dia tetap melakukan shalat zhuhur sebagai ganti dari shalat Jumat. Juga dengan tidak menyalahkan orang yang menghadiri shalat Jumat, mengingkari orang yang menunaikannya di masjid-masjid atau memicu fitnah dalam perkara yang di dalamnya para salaf saleh menerima adanya perbedaan pendapat.

Adapun gugurnya shalat Zhuhur karena telah dilaksanakannya shalat Ied maka pendapat yang diambil oleh jumhur ulama baik dahulu maupun sekarang adalah bahwa shalat Jum'at jika gugur karena suatu rukhshah (keringanan), uzur atau terlewatkan waktunya maka harus dilaksanakan shalat Zhuhur sebagai gantinya. Sedangkan Atha' berpendapat bahwa shalat Jum'at dan Zhuhur dianggap gugur karena telah dilaksanakannya shalat Ied. Dalil yang digunakan oleh Atha' adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, "Ibnu Zubair r.a. melaksanakan shalat Ied yang jatuh pada hari Jum'at pada awal siang (pagi hari) bersama kami. Lalu kami pergi untuk melaksanakan shalat Jum'at, namun ia tidak datang. Akhirnya, kami pun melaksanakan shalat sendiri. Ketika itu Ibnu Abbas r.a. sedang berada di Thaif. Ketika ia datang, maka kami menceritakan hal itu. Beliau pun berkata, "Ia telah melaksanakan sunnah."

Hanya saja riwayat ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil karena memiliki kemungkinan makna yang lain. Sebuah dalil yang mengandung berbagai kemungkinan menjadi batal nilai kedalilannya. Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Ibnu Zubair tidak melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya. Bahkan penjelasan Atha' bahwa mereka melaksanakan shalat sendiri (shalat Zhuhur) mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mengatakan bahwa shalat Zhuhur menjadi gugur. Pendapat ini mungkin dapat ditafsirkan sebagai mazhab yang berpendapat kebolehan melaksanakan shalat Jum'at sebelum tergelincir matahari (zawal). Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad. Bahkan diriwayatkan dari Atha' sendiri, dimana ia pernah mengatakan, "Setiap shalat Ied dilaksanakan ketika telah masuk waktu Dhuha: shalat Jum'at, Iedul Adha dan Iedul Fitri." Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat Wahb bin Kaysan yang diriwayatkan oleh Nasa`i: "Dua Ied telah berkumpul pada masa Ibnu Zubair. Maka ia pun mengakhirkan keluar rumah hingga siang semakin tinggi. Ia lalu keluar dan berkhutbah serta memanjangkan khutbahnya. Lalu ia turun dan melaksanakan shalat lalu tidak melasakanakan shalat Jum'at bersama masyarakat." Sebagaimana diketahui bahwa khutbah Jum'at dilaksanakan sebelum shalat, sedangkan khutbah Ied dilaksanakan setelah shalat. Oleh karena itu, Abul Barakat Ibnu Taimiyah berkata, "Penjelasannya adalah bahwa ia memandang kebolehan mendahulukan shalat Jum'at sebelum tergelinciri matahari. Zubair mensegerakan shalat Jum'at dan menjadikannya sebagai pengganti shalat Ied."

Ditambah lagi bahwa syariat tidak pernah menjadikan shalat fardhu empat kali dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan sakit parah atau di tengah-tengah pertempuran. Shalat fardhu tetap dilaksanakan lima kali sebagaimana ditetapkan dalam dalil-dalil qath'I, seperti sabda Rasulullah saw. kepada seorang Arab badui yang bertanya tentang kewajiban Islam,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

"Lima shalat dalam sehari semalam." (Muttafaq alaih dari hadits Thalhah bin Ubaidillah r.a.).

Nabi saw. juga pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal r.a. ketika mengutusnya ke Yaman,

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

"Beritahulah mereka bahwa Allah 'azza wa jalla mewajibkan mereka melakukan shalat lima kali dalam sehari semalam." (Muttafaq alaih dari hadits Ibnu Abbas r.a.).

Rasulullah saw. juga bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ

"Lima shalat yang diwajibkan Allah kepada para hamba-Nya." (HR. Malik, Abu Dawud, Nasa`I dari hadits Ubadah bin Shamit r.a.).

Dan masih banyak lagi dalil yang menjelaskan mengenai hal ini. Jika shalat fardhu tidak dapat gugur dengan melaksanakan shalat fardhu lainnya, maka bagaimana mungkin dapat gugur dengan melaksanakan shalat Ied yang hukumnya hanyalah fardhu kifayah dalam skala komunitas dan sunah dalam sekala pribadi?

Syariat Islam telah mewajibkan shalat lima waktu ini dalam keadaan, tempat, person dan keadaan apapun, kecuali yang dikecualikan seperti wanita haid dan nifas. Bahkan, ketika Nabi saw. menjelaskan lama hidup Dajjal di dunia, beliau bersabda,

أَرْبَعُوْنَ يَوْماً، يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَاِئُر أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ

"Empat puluh hari. Satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan dan satu hari seperti satu jum'at. Sisa hari-harinya seperti hari-hari kalian."
Para sahabat bertanya, "Pada hari yang seperti setahun itu, apakah kita cukup melaksanakan shalat satu hari saja?" Beliau menjawab, "Tidak. Tapi perkirakan kadar waktu-waktu shalat itu." (HR. Muslim).

Ini adalah nash bahwa shalat fardhu tidak dapat gugur pada keadaan atau waktu apapun.

Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa shalat Jum'at dan Zhuhur menjadi gugur dengan melaksanakan shalat Ied adalah tidak dapat dipegangi karena kelemahan dalilnya dalam satu sisi dan karena ketidakpastian penisbatan pendapat ini kepada ulama yang mengatakannya.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

p/s : dipetik dari : http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?LangID=1&ID=1401&LangID=5

Usrah dan Matlamat..kita di mana??!

Salam ukhuwwah dan salam perjuangan...
Alhamdulillah akhirnya ana diberi peluang oleh Allah untuk menitipkan kalam dalam blog yang tidak seberapa ini yang kalau boleh diambil istifadah untuk kegunaan kita dalam kehidupan seharian. Sebelum itu ana ingin memohon maaf kerana sudah lama tidak ada kesempatan untuk mengupdate blog ini kerana terpaksa menguruskan beberapa hal peribadi termasuklah menjadi adhoc program HPS di KPT dan menguruskan shahadah (sijil) di Dumyat baru-baru ini. Tambahan pula ana dilanda demam dan pening2 beberapa hari sebelum pulang ke Dumyat. Oleh kerana urusan shahadah perlu segera diselesaikan (untuk urusan taqdim Master pula), badan yang terasa amat berat terpaksa diheret juga ke sana. 'Ala kulli hal bersyukur ke hadrat Ilahi kerana semuanya berjalan dengan lancar dan urusan dipermudahkanNya serta demam juga semakin pulih selepas 3 hari di sana. Sebaik sahaja tiba dari bumi Dumyat yang amat sejuk berbanding Kaherah (buktinya ana terus selsema apabila menjejakkan kaki di sana..huhu..maklumlah dah lame tak balik Dumyat..)ana dimaklumkan agar menjalankan usrah tahun satu KPT bermula minggu ini.

Dalam keadaan yang kurang bersedia (kerana baru pualang dari Dumyat) ana terus menjalankan amanah tersebut selepas soalat Isyak Jumaat malam tersebut. Mujurlah sesi pertama usrah biasanya hanya berlegar sekitar taaruf ahli usrah dan beberapa perbincangan berkaitan dengan silibus usrah serta perlantikan ketua usrah sahaja. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik memandangkan adik2 tahun satu di KPT tahun ini cukup matang dan sudah biasa dengan usrah di sekolah masing-masing. So, nampak mereka tidak kekok berada bersama-sama dalam liqo' usrah yang dibentuk oleh Biro Dakwah KPT tersebut walaupun ada di antara mereka berlainan sekolah asal dan bidang pengajian. Beberapa nasihat ana cuba selitkan dalam liqo' pertama ini termasuklah kepentingan usrah dalam kehidupan seharian, keperluan untuk bermujahadah dalam menuntut ilmu di kuliah dan kelas-kelas talaqi di samping perlu melaksanakan amal Islami dan amal Jamaie di Mesir ini.

kenangan bersama-sama ust fahmi dan ust sayuthi salleh dalam usrah ajkt DPMD 07/08 yang banyak mengajar erti perjuangan...

Ingin ana kongsikan sedikit dengan sahabat-sahabat naqib usrah berkenaan matlamat kita dalam berusrah. Antaranya ialah :
  1. untuk menghimpunkan ahli-ahli sesuatu jemaah (cthnya KPT sendiri) dalam satu kelompok kecil di bawah satu pimpinan atau naqib bagi memudahkan penyaluran bahan-bahan pengisian dan tarbiyah
  2. untuk mewujudkan ikatan kekeluargaan Islam di kalangan ahli-ahli sehingga mereka dapat merasakan satu hubungan dan ikatan secara langsung dengan jamaah
  3. untuk melatih ahli-ahli memahami dan mengenali kaedah bermuamalah dengan pimpinan/nuqaba' dan bentuk-bentuk muamalah yang betul dengan sahabat-sahabat seperjuangan
  4. untuk mengenal pasti secara detail dan tepat seluruh persekitaran yang mengelilingi ahli-ahli usrah seperti kefahaman, kemampuan, kelemahan, iltizam, masalah keluarga, kebajikan, kecenderungan, pemikiran dan sebagainya.
  5. untuk menyalurkan taujihat-taujihat dan thaqafah Islamiah secara kemas dan teratur (berdasarkan manhaj) kepada ahli-ahli usrah.
Apapun, usrah merupakan jalan yang terbaik untuk membentuk syakhsiah seseorang ke arah yang lebih baik dan untuk melahirkan seorang muslim yang sejati kerana ia telah diamalkan sejak zaman permulaan penyebaran agama Islam di Makkah lagi. Semoga amalan murni ini dapat diteruskan sehingga ke generasi akan datang dan dapat melahirkan insan yang betul-betul ikhlas dan memahami perjuangan Islam di atas muka Bumi ini. Allahu Akbar!!! Jom Usrah!!!

Kepentingan Memahami Sirah Rasulullah SAW

Kepentingan Memahami Sirah Rasulullah S.A.W
PARA ULAMA' ADALAH PEWARIS PARA ANBIA'

I.Muqaddimah

· Tidak ada satu pun biografi kehidupan seseorang di dunia ini selengkap biografi Rasulullah SAW.

· Kita boleh menyemaknya mulai dari masa pernikahan Abdullah dan Aminah -ayah bunda beliau- sampai dengan wafatnya.

· Kita boleh mengenal jelas waktu kelahirannya, masa kecil dan masa mudanya. Apalagi setelah beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, dengan terperinci.

· Biografi beliau merupakan sejarah lengkap kehidupan seorang manusia yang dimuliakan dengan risalah Allah, yang tidak terlepas dari sisi-sisi kemanusiaannya.

· Maka sangatlah relevan bila Allah SWT memerintahkan agar individu Muhammad SAW diteladani dan dijadikan rujukan hidup umat manusia.

· Firman Allah : "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab : 21)

· Kehidupan beliau sangat kompleks, menyangkut segala aspek kehidupan, sehingga tidak ada satu sisi pun dari kehidupan manusia yang terlepas dari sisi kehidupan beliau.

· Beliau adalah seorang suami terbaik dari beberapa orang isteri, seorang ayah terbaik dari beberapa orang anak, seorang datuk terbaik dari beberapa orang cucu, seorang mertua terbaik dari beberapa orang menantu, seorang menantu terbaik dari beberapa orang mertua, seorang pemimpin yang adil, seorang panglima yang cerdas, seorang politikus yang ulung, seorang yang paling sukses dalam dakwahnya, dan kesemuanya itu dilandasi dengan keagungan akhlak beliau. Firman Allah : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al Qalam : 4)

· Biografi beliau juga merupakan petunjuk praktis dan aplikatif bagi umat manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah dan pelaksana hukum Allah (Al Qur'an) di muka bumi ini.

· Aisyah ra. menyimpulkan : "Akhlak Rasulullah adalah Al Qur'an"

· Al Imam Asy-Syafi'i mengatakan, "Apa yang beliau perbuat adalah apa yag beliau fahami dari al Qur'an."

· Oleh karena itu, memahami biografi beliau merupakan bahagian yang tidak terpisah dari memahami Islam itu sendiri, karena ia adalah saksi nyata, saksi hidup dari buah Iman dan keyakinan yang mantap terhadap Dienul Islam, yang terjelma pada sosok pemimpin teladan yang agung, juga tercermin dalam kehidupan generasi pertama yang tumbuh hidup ditangan didikan beliau sendiri.

· Biografi Rasulullah SAW ini kita kenal sekarang dengan istilah Sirah Nabawiyah. PARA ULAMA' MENDEKATKAN DIRI KITA KEPADA KEPERIBADIAN AGUNG RASULULLAH

II.Makna Sirah

· Ibnu Mandzur dalam ‘Lisanul Arab' mengatakan bahwa As Sirah menurut bahasa berarti kebiasaan, jalan / cara, tingkah laku.

· Sedangkan menurut istilah umum, berarti rincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang.

· Namun sudah menjadi kesepakatan umat manakala menyebut as-Sirah, yang dimaksud adalah as-Sirah an-Nabawiyah artinya sejarah hidup Rasulullah SAW dan kini sudah menjadi satu nama / istilah dari disiplin ilmu tersendiri.

· Para ulama ahli sejarah dahulu memakai istilah ‘Ilmu peperangan dan Sejarah' .

· Pada dasarnya pembahasan Sirah Nabawiyah mencakup 3 bahasan pokok :

1. Sejarah kehidupan Rasulullah SAW sejak tanda-tanda kenabian (sejak lahir) sampai wafatnya.

2. Sejarah kehidupan para sahabat yang beriman dan berjihad bersama beliau.

3. Sejarah penyebaran Dienul Islam yang dimulai turunnya Al 'Alaq di gua Hira sampai berduyun-duyun umat manusia di jazirah Arab memasuki Islam.

III.Sumber-sumber Kajian Sirah Nabawiyah

1. Al Qur'an: Al Qur'an merupakan sumber pokok kajian Sirah nabawiyah, karena Al Qur'an merupakan data paling tepat untuk catatan semua peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di alam ini.

· Yang menuturkannya adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup dan tidak akan pernah mati, bahkan Allah sendirilah pemprogram semua peristiwa sejarah itu.

· Tetapi Al Qur'an sendiri tidak secara rinci memuat peristiwa-peristiwa sejarah, hanya secara global saja.

· Oleh karena itu kita tidak hanya cukup bersandar pada Al Qu r'an saja dalam kajian Sirah Nabawiyah ini, tetapi perlu didukung oleh sumber-sumber lainnya.

2. As Sunnah An Nabawiyah Ash Shahihah: Yakni Sunnah yang telah dihimpun oleh para ulama hadits dengan cara periwayatan yang sangat cermat, seperti 6 kitab standard dalam ilmu hadits : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzy. Juga Muwaththa' Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad boleh dijadikan sumber kajian Sirah.

3. Kitab-kitab Sirah, Dalail dan Syama'il. Seperti Sirah Ibnu Hisyam karya Abu Muhammad Abdul Malik Ibn Ayyub Al Humairy (213 atau 218 H), Thabaqat Al Kubra (Thabaqat Ibnu Sa'ad) karya Muhammad Ibnu Sa'ad Ibnu Munei' Az-Zuhry (168 - 230H), Tarikh Ath-Thabary karya Abu Ja'far Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabary (223 - 310 H), Dala'ilunnubuwwah karya Al Imam Al Baihaqy, Asy-Syamail karya Al Imam At-Turmudzy, Al-Khashaish Al Kubra karya Imam As-Suyuthy, dll.

IV.Ciri-ciri Sirah Nabawiyah

· Ciri-ciri Sirah Nabawiyah sangat terkait dengan karakteristik Al Qur'an dan As-Sunnah, karena ketiganya merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan.

· Namun di sisi lain ada perbezaan-perbezaan yang disebabkan karena unsur kemanusiaan peribadi Rasulullah SAW. Asy-Syumul (Universal), yakni mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Karena beliau diutus untuk dicontoh dan dijadikan tauladan oleh umat manusia.

· Al-Mahfudh (Terpelihara), yakni Allah SWT memelihara Sirah Nabawiyah seperti Sunnah Nabawiyyah, karena pemeliharaan keduanya merupakan indikasi pemeliharaan terhadap Al Qur'an sendiri. Al-'Amaliyyah (Aplikatif), yakni Sirah Nabawiyah sangat mungkin untuk diaplikasikan dalam setiap masa, setiap tempat dan keadaan serta setiap permasalahan.

V.Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah

· Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah dan memahaminya bukanlah seperti merenungkan peristiwa-peristiwa sejarah, bukan pula menguraikan keindahan tutur kata dari pencatatan suatu peristiwa, sebagaimana pencatatan sejarah hidup seorang raja atau pemimpin biasa.

· Akan tetapi bertujuan supaya seorang muslim mempunyai gambaran nyata tentang hakikat Islam yang sebenarnya, yang tercermin dalam sosok kehidupan Rasulullah SAW.

· Jadi tiada lain kecuali suatu usaha aplikatif untuk merealisasikan hakikat Islam yang sempurna.

· Fungsi memahami Sirah Nabawiyah tercermin dalam point-point berikut:

Meletakkan dasar yang kuat tentang Kerasulan Muhammad SAW. yang hasil darinya:

· membenarkan setiap apa yang beliau khabarkan (QS 53:3-4),

· mentaati apa yang diperintahkan (QS. 4:59),

· menjauhi apa yang beliau larang (QS 59:7)

· beribadat menurut syari'atnya dan

· mencintainya (QS 9:23-24).

· Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) di antara kalian kecuali aku lebih dicintai dari pada dirinya sendiri, orang tua dan seluruh manusia."

· Dengan dasar ini maka secara langsung merupakan senjata yang ampuh dan kuat untuk menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam yang selalu berupaya melontarkan syubuhat (kerancuan-kerancuan) tentang kebenaran risalah dan kenabian Muhammad SAW.

· Mereka bertujuan supaya kalimat kedua dari dua kalimat syahadat hanya menjadi pemanis bibir dan hiasan basa-basi pada percakapan resmi. Penjelmaan di hadapan seorang muslim sebuah sosok yang jelas dengan sisi-sisi kehidupan yang patut dicontoh sebagai aplikasi dari ayat 21 surat Al-Ahzab, sehingga mendapatkan contoh yang nyata dalam pelaksanaan Dienul Islam.

· Akan tetapi sayangya, sejarah hidup Rasulullah SAW untuk sementara ini hanya sekedar buku bacaan yang terkadang tidak difahami karena berbahasa arab, interaksi dengannya hanya sebatas seremonial / ritual yang belum tentu didizinkan oleh Allah dan RasulNya.

· Hasilnya umat Islam sudah kehilangan figur contoh dan idolanya.

· Kajian Sirah Nabawiyah membantu dalam menelaah Kitabullah (Al Qur'an), merasakan ruhnya dan menangkap pesan-pesannya. Dengan demikian Al Qur'an difahami dengan benar, baik secara tektual ataupun kontektual.

· Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an yang tidak bisa difahami / ditafsirkan secara benar kecuali dengan merujuk kepada Sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan ayat-ayat itu.

· Sebagai contoh surat Al-Anfal. Surat ini hanya bisa difahami dan bisa diambil ibrahnya manakala kita baca Sirah Nabawiyah tentang perang Badar.

· Kajian Sirah Nabawiyah memberikan manhaj (methode) yang jelas bagi para da'i untuk meneruskan perjuangan mulia para Nabi dan Rasul. Juga memberikan gambaran susunan agenda dan alpabeta kerja da'wah secara rinci dan jelas.

· Dalam perjalanan da'wah Rasulullah SAW, di kenal dua buah fase/tahapan da'wah :

Fasa Makkiyah (selama beliau berda'wah di Makkah ).

1. Penekanan dengan penyampaian dan penyebaran da'wah, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan, dimulai dari keluarga terdekat, sebagai penyelamatan manusia dari kesesatan kepada petunjuk yang terang, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam yang terang benderang.

2. Penekanan dengan mendidik / mentarbiyah orang-orang menerima da'wah dan beriman kepada da'wah beliau, mentazkiyah / menyucikan jiwa mereka, untuk membentuk basis masyarakat Islami dengan jalan: -mengajarkan Dienul Islam -mengaplikasikan Islam dalam kehidupan mereka. -memperdalam makna ukhuwah islamiyah di antara mereka -saling berwasiat dengan haq dan kesabaran

3. Berusaha untuk tidak memberikan perlawanan secara fisikal terhadap gangguan dan rintangan da'wah, cukup dengan jihad da'wah. Padahal musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai kekuatan fisikal. Bahkan Khobbab ibn Al-Arot ra pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang siksaan yang diderita oleh shahabat yang lain. Shahabat Khobbab lalu mengusulkan agar kaum Muslimin diizinkan memberikan perlawanan fisikal atau Rasulullah berdo'a kepada Allah untuk kehancuran orang-orang kafir. Tapi beliau menganggap tindakan itu sebagai langkah isti'jal (ketergesa-gesaan).

4. Terus bergerak dengan da'wah, tidak terfokus pada Makkah saja, hijrahnya beberapa orang ke Habasyah, perginya beliau ke Tha'if, usaha beliau untuk menjalin hubungan dengan jemaah haji yang datang ke Makkah di musim haji merupakan bukti amanah beliau dalam menyampaikan Risalah Islam.

5. Kesinambungan kerja dalam meletakkan strategi dan langkah-langkah untuk masa depan da'wah islamiyah. Seperti mengadakan perjanjian dan sumpah setia (bai'at) dengan orang-orang Yatsrib; kemudian mengutus Mus'ab bin Umair kepada mereka untuk mengajarkan Al Qur'an dan Islam; berusaha memiliki kontak dengan kabilah-kabilah di luar kota Makkah untuk mencari suaka dan tempat berlindung; Dan akhirnya beliau hijrah ke Yathrib/Madinah dengan strategi yang sangat rapi dan matang.

Zaman Madaniyah (selama beliau berda'wah di Madinah)

1. Penekanan dalam pemantauan proses penyampaian da'wah, tarbiyah dan tazkiyah kepada orang-orang yang menerima da'wah dengan cara penyampaian Al Qur'an, mengajarkannya dan menerapkannya dalam kenyataan hidup mereka. Juga kepentingan pembangunan masjid sebagai tempat pembinaan umat, mempersaudarakan antara orang-orang Ansar dan Muhajirin serta terus mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka.

2. Penuh perhatian dengan berdirinya suatu tatanan masyarakat atau tata perlembagaan masyarakat Islami (daulah) setelah ketiga unsurnya sempurna, yaitu: - adanya basis masyarakat yang beriman, hal ini sudah beliau persiapkan sejak diutusnya Mus'ab bin Umair ke Yatsrib sebelum Hijrah. - adanya basis geografis yang aman, di mana kota Yathrib sangat strategis kalau dilihat dari berbagai aspeknya, di samping sebagai realisasi petunjuk Allah dalam mimpi beliau (mimpi seorang Nabi merupakan wahyu yang benar). - adanya aturan hidup yang jelas, yakni syari'at Islam yang terus mengatur interaksi masyarakat.

3. Penekanan pada melaksanakan aplikasi syari'at Islam bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, baik untuk perorangan atau masyarakat luas. Malah beliau menegaskan, putri beliau tercinta pun tidak akan lepas dari hukum tersebut, apabila ia melanggar.

4. Berusaha mengadakan perdamaian dengan musuh-musuh Islam yang mahu berdamai dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam suatu tatanan masyarakat Islami.

5. Menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha menyerang dengan jalan melakukan peperangan, mengadakan latihan dan patroli ketenteraan serta terus mengadakan mobilisasi pasukan mujahidin yang siap tempur bila saja beliau minta. Sebagai contoh adalah kesah Hanzalah. Beliau tidak sempat mandi junub setelah malam pengantinnya karena mendadak ada penggilan jihad menuju Uhud. Di dalam perang Uhud sahabat Hanzalah syahid. Malaikatlah yang memandikan beliau sebelum akhirnya dikuburkan oleh kaum muslimin.

6. Merealisasikan Alamiyatudda'wah Al-Islamiyah, sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dengan cara mengirim utusan-utusan dan surat-surat da'wah ke berbagai daerah atau negara tetangga serta menerima tamu-tamu dari utusan negara lain sebagai bukti bahwa da'wah beliau untuk seluruh umat manusia.

7. Kajian Sirah Nabawiyah termasuk aktiviti ilmiah kita yang bernilai ibadah. Ayat 21 surat al-Ahzab secara jelas memerintahkan kita berqudwah kepada Rasulullah SAW. Tidak mungkin kita boleh berqudwah kepada beliau kecuali dengan mengenal, mengkaji dan memahami Sirahnya. Dalam kaidah syar'iyyah sering kita jumpai: "Segala sesuatu yang mendukung sempurnanya suatu kewajiban, maka hukumnya wajib".

8. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah, Umat Islam secara tidak langsung mempunyai standard baku dan benar dalam menilai keadaan kehidupan masyarakat semasa, di mana masa kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan puncak kesempurnaan dari kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.

VI.Penutup

· Para ulama Salaf (terdahulu) dan Khalaf (kontemporari) sangat mengambil berat dengan kajian Sirah Nabawiyah.

· Ali Ibn Al-Hasan menuturkan:"Kami mengajarkan Maghazi (peperangan) Nabi SAW seperti kami mengajarkan salah satu surat dari Al Qur'an". Lihat Al-Bidayah Wan-Nihayah - Ibn Katsir juz 3 hal. 241.

· Urwah ibn Az-Zubair ibn Awwam (23 H - 93 H) adalah orang yang pertama mentadwin peristiwa-peristiwa Sirah yang ia dengar dari para shahabat, kemudian Aban ibn Utsman ibn Affan (32 H - 105 H), Abdulloh ibn Abu Bakar Al-Anshary ( wafat 124 H ), Muhammad ibn Muslim ibn Syihab Az-Zuhry ( 50 H - 124 H ) dll.

· Di kalangan ulama semasa, kajian Sirah Nabawiyah tetap bersandar kepada apa yang ditulis oleh para ulama salaf, tapi lebih dititikberatkan kepada ibrah dan komentar-komentar untuk dijadikan bahan pemahaman mendalam. Seperti „Fiqhus Sirah" karya Syekh Muhammad Al-Ghazali) (sudah diterjemahkan) dan masih banyak buku-buku sejenis yang belum diterjemahkan.

Semoga makalah sederhana ini menjadi penyulut semangat kita dalam mengkaji Sirah Nabawiyah selanjutnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam.
2. Fiqhus-Sirah An-Nabawiyah, Munir Muhammad Ghadban, Ummul Quro University, cet. I, th 1989.
3. Fiqhus-Sirah, Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy, Darul Fikry, cet. 2 th. 1980.
4. As-Sirah An-Nabawiyah (durus wa'ibar). Dr. Musthafa As-Siba'y, Al-Maktab Al-Islami, cet. 7, th. 1984.
5. Syu'aun min As-Sirah An-Nabawiyah, Dr. Rajih Abd. Hamid Al-Kurdy, Darul Furqan, cet. I, th. 1985

GAMBAR-GAMBAR DIPETIK DARI LAMAN WEB KUTUB SITTAH :http://kutubsittah-pmram.blogspot.com/

Kehebatan ilmu Imam Shafie : Dialog bersama Harun al-Rashid.

Al-Hafiz al-Baihaqi meriwayatkan Imam Shafie pernah suatu hari menghadiri majlis yang diadakan oleh Khalifah Harun al-Rashid. Muhammad bin al-Hasan turut hadir. Khalifah berpaling kepada Imam Shafie, lalu bertanya: ‘Wahai Ibn Idris! Bagaimana penguasaanmu terhadap Kitab Allah azza wa Jalla?"
Jawab Imam Shafie: ‘Kitab Allah Azza wa Jalla yang mana satu engkau tanya? kerana Allah Subhanahu wa Taala menurunkan beberapa buah kitab; 58 buah kitab ke atas 7 para Nabi as.
Allah turunkan ke atas Adam, Shith as 30 sahifah. Semuanya perumpamaan.
Allah turunkan ke atas Akhnukh (Nabi Idris) as 16 sahifah. Semuanya hikmah dan ilmu mengenai alam tinggi (al-Malakut al-A’la).
Allah turunkan ke atas Ibrahim as 8 suhuf. Di dalamnya kefardhuan dan Nazar.
Allah turunkan ke atas Musa as Taurat. Kebanyakannya amaran dan nasihat.
Allah turunkan ke atas Isa as Injil, untuk menerangkan kepada Bani Israel perkara yang mereka perselisihkan dalam Taurat.
Allah turunkan ke atas Daud as kitab (iaitu Zabur). Semuanya doa dan nasihat.
Allah turunkan ke atas SayyidilBashar (ketua segala manusia) Muhammad saw al-Furqan. Ia menghimpunkan segala kitab terdahulu.
Allah Taala berfirman, maksudnya:
“ Dan (ingatkanlah tentang) hari Kami bangkitkan dalam kalangan tiap-tiap umat, seorang saksi terhadap mereka, dari golongan mereka sendiri; dan Kami datangkanmu (wahai Muhammad) untuk menjadi saksi terhadap mereka ini (umatmu); dan Kami turunkan kepadamu al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang menggembirakan, bagi orang-orang Islam” An-Nahl: 89
Dan firmanNya bermaksud:
“Alif, Lam, Raa. Al-Quran sebuah kitab yang tersusun ayat-ayatnya dengan tetap teguh, kemudian dijelaskan pula kandungannya satu persatu. (Susunan dan penjelasan itu) adalah dari sisi Allah Yang Maha Bijkasana, lagi Maha Mendalam pengetahuanNya.” Hud:1


penulis ketika menziarahi maqam imam syafie suatu ketika dahulu

Khalifah Harun al-Rashid berkata: ‘Engkau telah menjawab dengan baik melalui huraianmu. Tetapi maksudku ialah al-Quran yang diturunkan ke atas SayyidilMursalin Muhammad saw yang diperintah Allah supaya kita menerimanya, dan memerintahkan kita supaya beramal dengan ayat muhkamnya dan beriman dengan ayat mutasyabihnya.’
Imam Shafie menjawab: ‘Ayat yang mana satu engkau tanya? Tentang muhkamnya, mutasyabih, nasikh atau mansukhnya? Kerana terdapat ayat itu hukumnya thabit sedangkan bacaannya diangkat; di antaranya bacaannya thabit dan hukumnya terangkat, atau engkau tanyakan aku tentang perbandingan dan perumpamaan yang Allah buat, atau beberapa kisah umat terdahulu.’ Imam Shafie terus menjawab dengan menyebut 73 bentuk…
Harun al-Rashid berkata: ‘Hei Shafie! Adakah ilmumu meliputi semua ini?’
Imam Shafie menjawab: ‘Wahai AmirulMukminin! Ujian terhadap orang yang bercakap ialah seperti api yang membakar perak. Ia akan menzahirkan yang mana baik, yang mana buruk.’
Harun al-Rashid berkata: ‘Aku tidak pandai mengulangi apa yang engkau sebutkan, tetapi aku akan bertanya tentangnya di majlis yang lain. Bagaimana pula penguasaanmu terhadap Sunnah Rasulullah saw?’
Imam Shafie berkata: ‘Aku mengetahui dari Sunnah itu apa yang keluar dalam bentuk wajib, tidak boleh meninggalkannya sebagaimana tidak boleh meninggalkan apa yang diwajibkan Allah dalam al-Quran, apa yang keluar dalam bentuk ta’dib, apa yang keluar dalam bentuk nadb (sunat), apa yang keluar dalam bentuk khas..yang tidak dimasuki oleh am, apa yang keluar dalam bentuk umum..yang termasuk di dalamnya khusus, apa yang keluar sebagai jawapan dari orang yang bertanya..tidak boleh selainnya untuk menggunakannya, apa yang keluar buat pertama kalinya…kerana banyaknya ilmu di dalam dada Nabi saw, apa yang dibuat khusus untuk dirinya dan menjadi ikutan orang tertentu dan awam, dan apa yang khusus untuk dirinya..lalu tidak dikongsi perkara itu dengan orang lain.’
Harun al-Rashid berkata: ‘Barakallahu fik (Moga Allah memberkatimu) wahai Shafie! Engkau telah menjawab dengan baik. Bagaimana pula penguasanmu terhadap Bahasa Arab?’
Imam Shafie menjawab: ‘Bahasa Arab itulah medan kami. Tabiat kami telah terbiasa dengannya. Lidah kami menuturinya. Bahasa Arab itu telah menjadi seperti kehidupan kami, ia tidak sempurna melainkan dengan keselamatan bahasa Arab. Aku dilahirkan tanpa mengenal lahn/kesilapan dalam bahasa Arab.’
Harun al-Rashd berkata: ‘Mudah-mudahan Allah membanyakkan di kalangan keluargaku orang sepertimu.’
Khalifah memerintahkan supaya diberikan 1000 dinar kepada Imam Shafie. Imam Shafie menerimanya. Khalifah ketawa, sambil berkata: ‘Alangkah bijaknya engkau, alangkah mendalamnya ilmu engkau. Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu…’
Khalifah memerintahkan khadamnya mengikut Imam Shafie supaya melihat apa yang dibuat oleh Imam Shafie terhadap wang tersebut. Imam Shafie membahagi-bahagikan wang tersebut sebekas sebekas hingga ia sampai ke satu pintu. Tidak ada bersamanya melainkan satu bekas wang lalu diberikannya kepada khadam Khalifah itu.
Khadam tersebut memberitahu perkara tersebut kepada Khalifah Harun al-Rashid. Al-Rashid berkata: ‘dengan inilah hemmahnya hilang dan kuatlah ujiannya (faragha hammuhu wa qawiat minnatuhu)


kenangan bersama sahabat-sahabat dari Terengganu ketika ziarah maqam aulia' sekitar Kaherah

Komentar saya:
1. Imam Shafie sememangnya seorang tokoh ternama dalam sejarah Islam. Sebagai beradab, jangan perlekehkan ketokohannya.
2. Seseorang tinggi di sisi Allah kerana ilmunya, bukan kerana pangkat dan jawatannya.
3. Penguasaan terhadap al-Quran dan Hadis adalah asas ilmu sebenar. Kalau kail hanya sejengkal di dalam bidang al-Quran atau Hadis, tolong jangan mendabik dada ( atau perasan) sebagai pakar atau hebat.
4. Perkataan yang keluar dari mulut menjadi indikator kepada kredibiliti ilmu dan peribadi seseorang.
5. Ketinggian ilmu si ulama yang benar tidak menjadikan ia buta hati terhadap ganjaran harta yang diberi.
6. Pemerintah yang adil termasuk pemerintah yang meletakkan ulama pada tempatnya yang sebenar dan bersedia menerima pandangan ulama.
7. Kebijaksanaan berucap ialah untuk menegakkan kebenaran, bukannya menunjukkan keegoan.

19 Hadith Mengenai Wanita


19 Hadith Mengenai Wanita

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya".

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Jadi, janganlah sesekali anda merasa lemah. Wanitalah sebenarnya yang membuat seseorang lelaki itu kuat. Itulah salah satu sebab mengapa Nabi meletakkan wanita setaraf pada lelaki dan tidak lebih rendah. Buat renungan kita semua.
Wallahu'alam.

KENYATAAN RASMI YANG DI-PERTUA TERHADAP PERISTIWA SAMBUTAN MAHASISWA BARU


Salam hormat daripada kami Keluarga Penuntut-Penuntut Terengganu kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berada di Mesir yang sentiasa peka terhadap apa yang berlaku ke atas kami sebagai Anak-Anak Terengganu yang dinafikan hak untuk menyambut mahasiswa-mahasiswa baru yang tiba ke mesir beberapa hari lepas.

Sebagai sebuah badan kebajikan anak-anak negeri (BKAN), maka semestinya badan ini bertanggungjawab penuh ke atas kebajikan sesiapa sahaja dari kalangan Anak-Anak Terengganu yang berada di mesir ini untuk mendapatkan pertolongan dan kebajikan daripada kami.

Malangnya apa yang berlaku disebaliknya iaitu dinafikan hak oleh pihak yang berkenaan untuk menguruskan kedatangan mahasiswa-mahasiswa baru di bawah Yayasan Terengganu sepertimana kebiasaan yang berlaku zaman berzaman.



Kronologi-kronologi yang berlaku bolehlah tuan-tuan merujuk blog-blog yang disiarkan oleh ahli-ahli KPT untuk pengetahuan umum. Cuma di sini saya ingin menyatakan kekesalan dan dukacita terhadap apa yang berlaku daripada peristiwa-peristiwa berikut :

1. Amaran pihak berkenaan kepada salah seorang exco supaya tidak pergi menghadirkan diri ke lapangan terbang untuk menyambut mahasiswa baru.

2. AJK sambutan telah dilantik oleh pihak berkenaan daripada kalangan BUKAN anak-anak Terengganu (daripada kumpulan ISMA dan lain-lain).

3. Pengabaian kebajikan mahasiswa yang baru tiba :

- Terus dibawa jaulah ke sekitar kaherah dan ke Sinai (yang sepatutnya diberi masa rehat terdahulu kepada mereka untuk menyesuaikan diri dengan cuaca, keadaan dan sebagainya.
- Pengabaian terhadap makan dan minum sehingga ada yang mengadu lapar kepada kami.
- Tiada khidmat musyrif sepenuh masa sebagaimana yang disediakan oleh kami zaman berzaman yang menyebabkan keselamatan tidak terjamin.

4. Maklumat yang tidak tepat disampaikan kepada mahasiswa baru mengenai penempatan bahawa tiada kekosongan bilik di Asrama Terengganu kerana mahasiswa-mahasiswa lama tidak mahu mengikut arahan yang telah dikeluarkan. Maka disini saya nyatakan bahawasanya kami telah menyediakan bilik-bilik untuk penginapan kepada semua yang baru tiba termasuk juga kepada rombongan yang kedua tiba bukan sepertimana maklumat yang diberikan.

5. Pengabaian terhadap waktu-waktu solat menyebabkan sebahagian mahasiswa baru terpaksa menqadakan solat.

6. Menyembunyikan tarikh ketibaan mahasiswa-mahiswa baru daripada KPT dan menyembunyikan program-program mereka daripada pengetahuan KPT, akan tetapi yang peliknya kenapa ia dipelopori oleh kumpulan-kumpulan ISMA dan orang perseorangan yang dipilih oleh pegawai dan bukan dari persatuan anak Terengganu sendiri?

Maka dengan berlakunya peristiwa-peristiwa seperti ini , Keluarga Penuntut-Penuntut Terengganu ingin menyatakan kekesalan dan amat dukacita terhadap kejadian ini yang sepatutnya ia tidak berlaku sekiranya tiada campur tangan dari pihak luar akan tetapi kerana campur tangan inilah berlakunya keadaan yang tidak stabil.

Maka di sini kami ingin menyatakan mesej dan memberi teguran dan peringatan kepada pihak-pihak yang berkenaan supaya tidak lagi mengulangi perkara ini untuk tahun-tahun akan datang dan ianya mesti bertindak dengan kebijaksanaan dan perlu melihat keadaan semasa bukan semata-mata mengikut kepentingan seseorang atau sesuatu pihak yang menyebabkan ia memburukkan suasana dan juga memburukkan diri kita sendiri.

Kepada ahli-ahli KPT khasnya yang bertungkus-lumus untuk menjayakan sambutan ini, saya mengucapkan jutaan terima kasih dan setinggi penghargaan atas komitmen yang begitu tinggi yang telah ditunjukkan oleh ahli. Dan untuk umumnya saya mengharapkan sokongan penuh daripada ahli-ahli kepada KPT terhadap kenyataan ini dan juga sokongan penuh terhadap agenda-agenda dan aktiviti-aktiviti yang akan dibawa pada masa akan datang.

Sekian sahaja, wassalam.

MOHD SHAFIZI BIN ISMAIL
Yang Di-Pertua
Keluarga Penuntut-penuntut Terengganu 08/09

Universiti Al-Azhar Larang Berpurdah??!


KAHERAH – Syeikh Al-Azhar, Mohammed Sayyed Tantawi berhasrat untuk mengharamkan pelajar perempuan berpurdah daripada memasuki Universiti Al-Azhar, lapor akhbar Al-Masry Al-You kelmarin.

Seorang pegawai keselamatan memberitahu, polis juga menerima arahan lisan untuk menghalang pelajar perempuan yang berselubung penuh memasuki Universiti Al-Azhar.

Satu sumber yang enggan dikenali berkata, pengharaman itu adalah untuk tujuan keselamatan dan usaha pencegahan pemerintah terhadap fahaman konservatif melampau di Mesir.

Secara umum, wanita memakai tudung di Mesir namun sejumlah lagi memakai purdah yang merupakan amalan biasa di Arab Saudi.


Ini adalah satu petikan berita dari akhbar harian KOSMO! bertarikh 7 Oktober 2009 yang cukup mengejutkan ana. Bermacam-macam perkara bermain di fikiran ana sebaik sahaja membaca petikan akhbar tersebut. Sama ada benar atau tidak pengharaman oleh sheikhul Al Azhar yang sering mengeluarkan kenyataan berbaur kontroversi tersebut ia pasti akan menimbulkan pelbagai spekulasi terhadap Al-Azhar dan para ulama'nya. Alasan yang diberikan ke atas larangan tersebut langsung tidak munasabah dan tidak relevan sama sekali di zaman kebangkitan Islam kini lebih-lebih lagi ia adalah satu kenyataan yang dikeluarkan oleh syeikul Al Azhar sendiri. Adakah kerana tujuan keselamatan semata-mata menyebabkan para sahabiah kita dilarang berpurdah mengikut sunnah para ummahatul mukminin? Ada ke para sahabiah kita sebelum ini mengancam keselamatan di kuliah sedangkan mereka berpurdah? Patutkah mereka yang dituduh berpurdah ini dituduh menganut fahaman konservatif melampau sedangkan mereka yang mendedahkan aurat tidak pula dituduh macam-macam. Dunia semakin pelik. Yang berpurdah dianggap mengancam keselamatan dan melampau dan yang mendedahkan aurat diagung-agungkan dan dibiarkan begitu sahaja.

Apa yang diharapkan kenyataan tersebut tidak benar dan seandainya benar sekalipun diharapkan mereka yang terlibat dapat memikirkan semula keburukan pengharaman tersebut. Sesungguhnya Al Azhar sejak dari penubuhannya sering menjadi tumpuan musuh-musuh Islam laknatullah dengan menggunakan para ulama' yang mengitkut telunjuk mereka untuk melemahkan sistemnya dan mengurangkan kualiti para azhari dari sudut ilmu dan pengamalannya. Ana teringat pernah satu peristiwa yang menunjukkan usaha jahat mereka ini untuk menghapuskan peranan Azhari ialah dengan cuba untuk menghapuskan BAB JIHAD di dalam kitab-kitab Fekah yang diajar di Universiti tertua ini. Alasan mereka ialah untuk menghalang dari para Azhari menjadi 'pengganas' kelak amat dangkal sekali. Namun, usaha tersebut ditentang keras oleh sebahagian besar ulama' Al Azhar yang sudah masak dengan agenda-agenda puak Yahudi dan Nasara kerana mereka tidak akan senang dengan kaum Muslimin sehinggalah kaum Muslimin mengikut kehendak mereka.

قال تعالى : ولن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم
صدق الله العظيم


p/s : ini adalah hanya pandangan dan pendapat ana yang serba dhaif dan banyak kekurangan serta ingin agar para pembaca berfikir dan membuka minda berkenaan isu yang berlaku di sekeliling kita terutamanya yang berkaitan dengan masa depan agama Islam dan para penganutnya. Seandainya para pembaca ada pandangan dan pendapat sendiri bolehlah berkomentar dan memberi pandangan anda secara ilmiah dan secara berhikmah. wassalam...

 

©2009 ~ibnuahmad addumyati~ | by TNB